Sunday, October 6, 2013

CEILING BRICK

BAB I
 PENDAHULUAN
A.      Lata belakang
Persaingan di era globalisasi mengarah pada semakin ketatnya persaingan di sektor pembangunan infrastruktur baik yang sifatnya pribadi atau publik. Daya saing tidak lagi ditentukan oleh keberadaan kekayaan alam, modal, atau aset berwujud, melainkan juga berdasarkan kemampuan untuk melaksanakan perencanaan yang matang, penguasaan pengetahuan dan teknologi, dan pola, metode serta proses kerja yang yang berdaya dan berhasil guna.
Bicara tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusianya sendiri beserta dengan atribut-atributnya uniknya dari aspek fisik hingga aspek psikologis. Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunol, dimana setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling berinteraksi.
Karenanya, pengembangan pembangunan  nasional khususnya pembangunan infrastruktur gedung baik hunian atau perkantoran  perlu memperhatikan dimensi pembangunan inovasi manajemen dan teknologi, pembangunan infrastruktur ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia secara terpadu dengan komitmen seluruh pemangku kepentingan di sektor pembangunan.

B.      Rumusan materi
1.       Masalah-masalah dalam pembangunan”GEDUNG”
2.       Penggunaan ceiling brick sebagai pemecah masalah
C.      Tujuan
1.       Untuk mempermudah dan mempercepat pembangunan gedung
2.       Untuk meningkatkan keamanan gedung
3.       Untuk penghematan biaya pembangunan gedung
BAB II
PEMBAHASAN
A.   Masalah-masalah dalam pembangunan gedung
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa gedung merupakan sebuah bangunan yang menyatu dengan kedudukannya. Bangunan gedung memiliki ragam fungsi dan bentuk, baik itu gedung hunian, perkantoran, ataupun sarana keagamaan. Saat ini di Indonesia khususnya rata-rata gedung memiliki tingkat lebih dari satu, apalagi gedung perkantoran yang berada di kota-kota besar memiliki tinggi yang melebihi bangunan lain pada umumnya. Nah, masalah yang sering timbul pada pembangunan gedung adalah waktu, biaya dan tingkat keamanan bagi penggunannya. Karena kita tahu rata-rata gedung menggunakan dak beton biasa untuk lantai yang merupakan pemisah antara tingkat satu dan tingkat lain diatasnya. Yang mana kita ketahui sifat dari dak beton biasa adalah sangatlah kaku, maka bila terjadi kerusakan misalnya roboh, tidak akan member waktu kepada mereka penghuni di bawahnya untuk menyelamatkan diri karena beton akan langsung jatuh sekaligus. Selain itu waktu pembuatan dak beton biasa sangatlah lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
B.   Pendekatan dan pemecahan masalah.
Inovasi merupakan hal yang sangat penting dilakukan guna meningkatkan kualitas pembangunan di Indonesia khususnya. 100 tahun lalu di Eropa telah di temukan sebuah bahan bangunan baru sebagai ganti dak beton biasa yang kualitasnya dianggap setara bahkan lebih baik dari dak beton biasa. Hal ini merupakan hasil kerja sama antara Negara-negara di eropa yaitu antara Jerman dan Belanda. Ceiling brick ( keramik komposit beton ) adalah blok blok keramik yang dirangkai menjadi plat lantai kemudian di komposit dengan beton sehingga digunakan sebagai pengganti cor dak biasa atau konvensional. Ceiling brick terbuat dari tanah liat yang di buat dengan cara di extrude dan di bakar dalam suhu 1000 derajat celcius sehingga berbentuk menyerupai kubus dengan lubang-lubang ditengahnya dan memiliki kuat tekan setara dengan beton K300. Ceiling brick jika di perhatikan dengan seksama memiliki rongga menyerupai huruf “ V “. Bila sudah terpasang rongga “ V “ ini seakan-akan menumpu beban yang ada diatasnya. Untuk memperkuat strukturnya, ceiling brick juga di berikan tulangan di keempat sisinya dan kemudian di cor dengan beton. Pemberian tulangan diberikan dengan searah, karena tulangannya hanya dikaitkan dengan dua balok yang berhadapan. 
Ceiling brick lahir karena adanya kerjasama antar Negara-negara di Eropa ( Jerman dan Belanda ) sekitar seratus tahun yang lalu. Kemudian teknologi ini dibawa ke Indonesia melalui proyek bantuan teknis pembangunan industri bahan bangunan yang diawasi oleh UNIDO/UNDP ( PBB Project INS /740/034 ). Pada proyek yang berlangsung pada tahun 1997, ceiling brick diteliti penggunaannya pada sebuah rumah contoh di puslitbangkim cipta karya pekerjaan umum dan prasarana wilayah kota bandung oleh Suwandojo siddiq,DE Eng ( peneliti senior dibidang struktur bangunan dan teknologi gempa ). Dari hasil penelitian, pada bentang 4 meter untuk ceiling brick ukuran 10 cm mendukung sampai 300 kg/m2. Jauh diatas kekuatan untuk rumah yang hanya 175 kg/m2.. Aplikasi material pada penelitiannya meerupakan hasil pengembangan dari Ir. Emon Sulaiman ( alm ) dan Nasan Subagja. Kemudian oleh Ir. Judadi pada tahun 1984 dkembangkan kembali modifikasi modelnya dan pada tahun 1990 kembali dikembangkan oleh Ir. Bambang Mursodo.
Ceiling brick memiliki beberapa keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan dak beton biasa, yaitu :
1.      Lebih ringan karena bobotnya hanya sekitar 130 kg/m2 lebih ringan dari dak beton biasa yang bobotnya mencapai 288 kg/m2 dengan ketebalan 12cm. Sehingga saat terjadi gempa maka gaya yang terbentuk akibat gempa pun lebih sedikit karena massanya lebih ringan dari dak beton biasa.
2.      Lebih ekonomis 60% dari dak beton biasa karena pengecorannya hanya diilakukan pada lapisan di atas ceiling brick yang hanya 1-3 cm ketebalannya dan pada celah antar balok. Selain itu celing brick menggunakan system penulangan satu arah sehingga kebutuhan besinya lebih sedikit dari dak beton biasa.
3.       Lebih cepat dari karena ceiling brick tidak memerlukan cetakan dan hanya memerlukan bekisting yang tidak terlalu banyak karena bekistingnya hanya di letakan pada ujung tumpuan balok. Karena keuntungan ini, anda dapat membuat plat/dak beton tanpa harus membongkar atap rumah keseluruhan terlebih dahulu. Tidak hanya itu, bila rumah anda dibangun dari awal dengan menggunakan bekisting yang minim, pekerjaan finishing di lantai bawah dapat segera diselesaikan tanpa harus menunggu selesainya pembuatan plat/dak beton di atasnya. Selain itu ceiling brick hanya membutuhkan 7 hari hingga penyangga di lepas, sedangkan dak beton biasa memerlukan waktu minimal 21 hari sampai bekistingnya di lepas.
4.      Isolator
Rongga didalam bata keraton ini juga memberikan keuntungan tambahan yaitu dapat meredam panas dan bunyi karena berfungsi sebagai isolator.
Berikut ini adalah gambar-gambar ceiling brick:
a.       Ceiling brick dalam bentuk satuan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvfoWitPgpu-V1Nw5FUeU0VHissQecIwxAOEsUj3ukkenU58LB_stpYq5eZlCbDMlNetLtTsha2rN_MJhyqRZt8yVX-8D23AwCulAf6nBskq3plgxTJiHi4LI2T10El_Zv56D36NpMo7Y/s320/CB.jpg
b.      Komponen tambahan dalam perancangan ceiling brick

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4L5Bh1bSF_uY1ktzFtzlQC_hlhC_mcZ3_jwb83ktVgH54SJuCDP4riXO9EQdLF5jRBdBaZDGRPEujqBQGb5Vs_eV3DNANgR1kf4V8iilRHRfDcBfbNw6VN8b-dP43JzUSOESWXzyiZhYS/s320/11.bmp







c.       Ilustrasi penggunaan ceiling brick

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7ZFEjUdRRLCCKOhT_CKSi5j30cdhafQDnax94kspr4WKaOwqzfXrjc7f9EruZsI6ikFShiUV0gpQ75KTJeFBK6KN9c0AkrdXNlPQ-qKj4Cd83717lBYGmcPKleW9sBCl0bRHz5SK8PSuU/s1600/top_angle_terpasang+1.jpg
Cara pemasangan ceiling brick:
A. PROSES PERAKITAN
picture006
1.       Keraton direndam air terlebih dahulu sekitar 10 menit.
2.       Siapkan adukan pasir semen dengan perbandingan psr 3 : semen 1 (tergantung keadaan pasir)
3.       Siapkan lantai kerja yang horisontal.
4.       Susun keraton pada lantai kerja sesuai panjang yang diinginkan tanpa menggunakan nat/spasi (posisi keraton beradu panjangnya) diusahakan agar sisi lebar keraton rata dengan cara ditimbang dengan tali di beri pemberat (lihat gambar), lubang pada keraton tdk boleh diisi adukan.
5.       Pasang besi pada keempat tempat pada keraton dan setiap 2 keraton besi diikat kawat tali secara silang ini guna memperkokoh sebelum adukan kering.
6.       Pemberian adukan pada besi yang terdapat pada sisi lebar usahakan serapih mungkin dan dihaluskan ini berguna bila pemasangan keraton akan di expose (tanpa pelafon) dan sisi kiri kanan sambungan keraton yang terdapat celah ditutup dengan adukan.
7.       Setelah pekerjaan 1 - 5 selesai maka lanjutkan dengan membuat bentangan kedua diatas bentangan pertama yang diberi lapisan koran (gambar) dan lanjutkan sampai bentangan ke 10 untuk bentangan lebih dari sepuluh mulai dari awal lagi, sehingga satu kelompok maksimal 10 tumpuk.
8.       Setelah bentangan kering maka balik bentangan tersebut(sisi lebar berada di bawah) lalu bagian sisi yang diatas bila terdapat celah pada sambungan keraton diberi adukan dan setelah kering maka pekerjaan perakitan selesai.

B. PROSES PEMASANGAN LANTAI
1.       Balok lantai yang ada pada bangunan disiapkan pembesiannya hanya pada pemasangan besi tarik dan cincin serta begisting yang kokoh sekaligus untuk penempatan keraton nantinya.
2.       Naikkan dan letakan bentangan keraton dengan tumpuan pada begisting balok dimana besi pada keraton masuk pada balok.
3.       Pasang besi tekan pada balok dan setelah itu pasang penopang balok kayu dan tiang pada tengah bentang keraton bagian bawah (lihat gambar).
4.       Setelah itu lanjutan dengan pengecoran pada balok dan celah keraton dengan campuran beton dan kemudian dilanjutkan sampai ketebalan 3 cm diatas keraton dan finishing plafon. Maka selesailah pekerjaan keraton dan setelah kering baru dilakukan pekerjaan finishing lantai.

perancah%20keraton
cor-cb
BAB III
SIMPULAN
Gedung merupakan bangunan yang menyatu dengan tempat kedudukannya. Waktu, biaya, dan keamanan merupakan aspek yang ada dalm kegiatan pembangunan sebuah gedung. Ceiling brick adalah keramik komposit beton yang merupakan alternatif pengganti dak beton konvensional yang digunakan untuk lantai gedung tingkat 2 dan seterusnya. Aspek keamanan, keuntungan dan waktu dalam penggunaan ceiling brick lebih unggul dari dak beton biasa. Bobotnya yang ringan dan proses penggunaannya yang lebih cepat dan mudah menjadikan ceiling brick mulai di lirik oleh para pelaku industry bangunan.
Daftar pustaka:

Thursday, October 3, 2013

TEKNIK SIPIL DI BENCI TAPI DI SAYANG

    Seperti yang sudah kita ketahui bahwa teknik sipil adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bagaimana caranya merancang, membangun, dan merenovasi suatu bangunan. Teknik sipil juga sering di sebut-seebut sebagai ilmu pengetahuan yang mampu membuat hutan belantara menjadi sebuah perkotaan yang sangat modern dengan hiasan-hiasan bangunan pencakar langit yang bak hendak menembus atmosfer. Teknik sipil mempunyai ruang lingkup yang luas, didalamnya pengetahuan matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, lingkungan, hingga ilmu computer mempunyai peran dan fungsinya masing-masing.  Bak gayung bersambut, teknik sipil saat ini merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sangat di butuhkan di Indonesia khususnya,  sejalan dengan banyaknya program pemerintah yang berkenaan dengan pembangunan.
Namun teknik sipil juga bagaikan sebuah pisau bermata dua yang mana di satu sisi mendapatkan dukungan dan di sisi lainnya mendapatkan penolakan yang begitu gencar. Oleh karena itu teknik sipil saya sebut sebagai ilmu pengetahuan yang di benci tapi juga di sayang. Mengapa saya katakana demikian? Ya mungkin bahkan pasti kita sering melihat berita-berita yang beredar di masyarakat baik itu melalui media masa atau media elektronik,  mengenai  kampanye yang di lakukan oleh para aktivis lingkungan mengenai global warming dan pentingnya lahan hijau. Nah, bagi para aktivis lingkungan inilah teknik sipil di anggap musuh, karena mereka berpikir bahwa para engineer ( insinyur  ) adalah biang keladi dari terjadinya global warming dan kerusakan alam. Ya, mungkin memang benar apa yang para aktivis itu katakan bahwa engineer atau para ahli teknik sipil hanya merusak lingkungan, bila di lihat dari sudut pandang yang sempit. Tapi bila mereka sedikit saja melihat dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa teknik sipil itu bukan hanya membangun tapi juga merenovasi. Jadi bisa dikatakan lahan yang di gunakan itu adalah lahan yang sama tapi berbeda waktunya. Sebuah lahan akan mengalami 3 proses sekaligus yaitu perancangan, pembangunan, dan renovasi. Karena pada dasarnya tidak ada pengetahuan yang bersifat merusak, tapi pemanfaatannya saja yang keliru, begitu juga dengan ilmu teknik sipil bila di gunakan dengan bijak tentu akan memberikan dampak yang positif.
Selain di benci ilmu teknik sipil juga memiliki pecintanya tersendiri. Pemerintah sayang teknik sipil tidak? Oh,sudah barang tentu  karena sejalan dengan program yang mereka canangkan yaitu pembangunan daerah dan pedesaan guna meningkatkan dan menyetarakan taraf hidup dan ekonomi masyarakat daerah dan perkotaan dalam hal ini Jakarta. Selain pemerintah yang mencintai atau lebih tepatnya mendukung, saya pun sebagai seorang mahasiswa teknik sipil amat sangat mencintai ilmu pengetahuan yang satu ini. Karena coba bayangkan jika tidak ada ilmu teknik sipil dan para engineer apakah bisa ada jalan aspal protocol ataupun jalan tol yang sehari-hari kita gunakan untuk menghubungkan suatu daerah dengan daerah lain?, atau apakah bisa ada pusat pembangkit listrik yang selama ini produknya yaitu listrik kita gunakan untuk menunjang kehidupan seperti untuk menyalakan barang-barang elektonik?. Jawabannya saya yakin “TIDAK”. Karena tidak ada bidang ilmu yang lain yang mempelajari tentang konstruksi dan konsep perancangan, pembangunan, dan renovasi sedetail teknik sipil. Namun itulah iptek selalu saja memiliki dua wajah yang berbeda di mata kita sebagai manusia yang pendapatnya dan pandangannya tidak selalu sama.