BAB I
PENDAHULUAN
A.
Lata belakang
Persaingan
di era globalisasi mengarah pada semakin ketatnya persaingan di sektor pembangunan
infrastruktur baik yang sifatnya pribadi atau publik. Daya saing tidak lagi
ditentukan oleh keberadaan kekayaan alam, modal, atau aset berwujud, melainkan
juga berdasarkan kemampuan untuk melaksanakan perencanaan yang matang,
penguasaan pengetahuan dan teknologi, dan pola, metode serta proses kerja yang
yang berdaya dan berhasil guna.
Bicara
tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusianya sendiri beserta
dengan atribut-atributnya uniknya dari aspek fisik hingga aspek psikologis.
Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunol, dimana
setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling
berinteraksi.
Karenanya, pengembangan pembangunan nasional khususnya pembangunan infrastruktur gedung baik hunian atau perkantoran perlu memperhatikan dimensi pembangunan inovasi manajemen dan teknologi, pembangunan infrastruktur ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia secara terpadu dengan komitmen seluruh pemangku kepentingan di sektor pembangunan.
Karenanya, pengembangan pembangunan nasional khususnya pembangunan infrastruktur gedung baik hunian atau perkantoran perlu memperhatikan dimensi pembangunan inovasi manajemen dan teknologi, pembangunan infrastruktur ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia secara terpadu dengan komitmen seluruh pemangku kepentingan di sektor pembangunan.
B.
Rumusan materi
1.
Masalah-masalah dalam pembangunan”GEDUNG”
2.
Penggunaan ceiling brick sebagai pemecah masalah
C.
Tujuan
1.
Untuk mempermudah dan mempercepat pembangunan
gedung
2.
Untuk meningkatkan keamanan gedung
3.
Untuk penghematan biaya pembangunan gedung
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Masalah-masalah dalam pembangunan gedung
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa gedung merupakan sebuah bangunan
yang menyatu dengan kedudukannya. Bangunan gedung memiliki ragam fungsi dan
bentuk, baik itu gedung hunian, perkantoran, ataupun sarana keagamaan. Saat ini
di Indonesia khususnya rata-rata gedung memiliki tingkat lebih dari satu,
apalagi gedung perkantoran yang berada di kota-kota besar memiliki tinggi yang
melebihi bangunan lain pada umumnya. Nah, masalah yang sering timbul pada
pembangunan gedung adalah waktu, biaya dan tingkat keamanan bagi penggunannya. Karena
kita tahu rata-rata gedung menggunakan dak beton biasa untuk lantai yang
merupakan pemisah antara tingkat satu dan tingkat lain diatasnya. Yang mana
kita ketahui sifat dari dak beton biasa adalah sangatlah kaku, maka bila
terjadi kerusakan misalnya roboh, tidak akan member waktu kepada mereka penghuni
di bawahnya untuk menyelamatkan diri karena beton akan langsung jatuh
sekaligus. Selain itu waktu pembuatan dak beton biasa sangatlah lama dan
menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
B.
Pendekatan dan pemecahan masalah.
Inovasi merupakan hal yang sangat penting dilakukan guna meningkatkan
kualitas pembangunan di Indonesia khususnya. 100 tahun lalu di Eropa telah di
temukan sebuah bahan bangunan baru sebagai ganti dak beton biasa yang
kualitasnya dianggap setara bahkan lebih baik dari dak beton biasa. Hal ini
merupakan hasil kerja sama antara Negara-negara di eropa yaitu antara Jerman
dan Belanda. Ceiling
brick ( keramik komposit beton ) adalah blok blok keramik yang dirangkai
menjadi plat lantai kemudian di komposit dengan beton sehingga digunakan
sebagai pengganti cor dak biasa atau konvensional. Ceiling brick terbuat dari
tanah liat yang di buat dengan cara di extrude dan di bakar dalam suhu 1000
derajat celcius sehingga berbentuk menyerupai kubus dengan lubang-lubang
ditengahnya dan memiliki kuat tekan setara dengan beton K300. Ceiling brick
jika di perhatikan dengan seksama memiliki rongga menyerupai huruf “ V “. Bila
sudah terpasang rongga “ V “ ini seakan-akan menumpu beban yang ada diatasnya.
Untuk memperkuat strukturnya, ceiling brick juga di berikan tulangan di keempat
sisinya dan kemudian di cor dengan beton. Pemberian tulangan diberikan dengan
searah, karena tulangannya hanya dikaitkan dengan dua balok yang
berhadapan.
Ceiling
brick lahir karena adanya kerjasama antar Negara-negara di Eropa ( Jerman dan
Belanda ) sekitar seratus tahun yang lalu. Kemudian teknologi ini dibawa ke
Indonesia melalui proyek bantuan teknis pembangunan industri bahan bangunan
yang diawasi oleh UNIDO/UNDP ( PBB Project INS /740/034 ). Pada proyek yang
berlangsung pada tahun 1997, ceiling brick diteliti penggunaannya pada sebuah
rumah contoh di puslitbangkim cipta karya pekerjaan umum dan prasarana wilayah
kota bandung oleh Suwandojo siddiq,DE Eng ( peneliti senior dibidang struktur
bangunan dan teknologi gempa ). Dari hasil penelitian, pada bentang 4 meter
untuk ceiling brick ukuran 10 cm mendukung sampai 300 kg/m2. Jauh
diatas kekuatan untuk rumah yang hanya 175 kg/m2.. Aplikasi material
pada penelitiannya meerupakan hasil pengembangan dari Ir. Emon Sulaiman ( alm )
dan Nasan Subagja. Kemudian oleh Ir. Judadi pada tahun 1984 dkembangkan kembali
modifikasi modelnya dan pada tahun 1990 kembali dikembangkan oleh Ir. Bambang
Mursodo.
Ceiling
brick memiliki beberapa keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan dak
beton biasa, yaitu :
1.
Lebih
ringan karena bobotnya hanya sekitar 130 kg/m2 lebih ringan dari dak
beton biasa yang bobotnya mencapai 288 kg/m2 dengan ketebalan 12cm.
Sehingga saat terjadi gempa maka gaya yang terbentuk akibat gempa pun lebih
sedikit karena massanya lebih ringan dari dak beton biasa.
2.
Lebih
ekonomis 60% dari dak beton biasa karena pengecorannya hanya diilakukan pada
lapisan di atas ceiling brick yang hanya 1-3 cm ketebalannya dan pada celah
antar balok. Selain itu celing brick menggunakan system penulangan satu arah
sehingga kebutuhan besinya lebih sedikit dari dak beton biasa.
3.
Lebih cepat dari karena ceiling brick tidak
memerlukan cetakan dan hanya memerlukan bekisting yang tidak terlalu banyak
karena bekistingnya hanya di letakan pada ujung tumpuan balok. Karena keuntungan ini, anda dapat membuat
plat/dak beton tanpa harus membongkar atap rumah keseluruhan terlebih dahulu.
Tidak hanya itu, bila rumah anda dibangun dari awal dengan menggunakan
bekisting yang minim, pekerjaan finishing di lantai bawah dapat segera
diselesaikan tanpa harus menunggu selesainya pembuatan plat/dak beton di
atasnya. Selain itu ceiling brick hanya membutuhkan 7 hari hingga penyangga di
lepas, sedangkan dak beton biasa memerlukan waktu minimal 21 hari sampai
bekistingnya di lepas.
4.
Isolator
Rongga didalam bata keraton ini juga memberikan
keuntungan tambahan yaitu dapat meredam panas dan bunyi karena berfungsi
sebagai isolator.
Berikut ini
adalah gambar-gambar ceiling brick:
a. Ceiling brick dalam bentuk satuan

b. Komponen tambahan dalam
perancangan ceiling brick

c. Ilustrasi penggunaan ceiling brick

Cara pemasangan
ceiling brick:
A. PROSES PERAKITAN

1.
Keraton direndam air terlebih dahulu sekitar 10
menit.
2.
Siapkan adukan pasir semen dengan perbandingan
psr 3 : semen 1 (tergantung keadaan pasir)
3.
Siapkan lantai kerja yang horisontal.
4.
Susun keraton pada lantai kerja sesuai panjang
yang diinginkan tanpa menggunakan nat/spasi (posisi keraton beradu panjangnya)
diusahakan agar sisi lebar keraton rata dengan cara ditimbang dengan tali di
beri pemberat (lihat gambar), lubang pada keraton tdk boleh diisi adukan.
5.
Pasang besi pada keempat tempat pada keraton dan
setiap 2 keraton besi diikat kawat tali secara silang ini guna memperkokoh
sebelum adukan kering.
6.
Pemberian adukan pada besi yang terdapat pada
sisi lebar usahakan serapih mungkin dan dihaluskan ini berguna bila pemasangan
keraton akan di expose (tanpa pelafon) dan sisi kiri kanan sambungan keraton
yang terdapat celah ditutup dengan adukan.
7.
Setelah pekerjaan 1 - 5 selesai maka lanjutkan
dengan membuat bentangan kedua diatas bentangan pertama yang diberi lapisan
koran (gambar) dan lanjutkan sampai bentangan ke 10 untuk bentangan lebih dari
sepuluh mulai dari awal lagi, sehingga satu kelompok maksimal 10 tumpuk.
8.
Setelah bentangan kering maka balik bentangan
tersebut(sisi lebar berada di bawah) lalu bagian sisi yang diatas bila terdapat
celah pada sambungan keraton diberi adukan dan setelah kering maka pekerjaan
perakitan selesai.
B. PROSES
PEMASANGAN LANTAI
1.
Balok lantai yang ada pada bangunan disiapkan
pembesiannya hanya pada pemasangan besi tarik dan cincin serta begisting yang
kokoh sekaligus untuk penempatan keraton nantinya.
2.
Naikkan dan letakan bentangan keraton dengan
tumpuan pada begisting balok dimana besi pada keraton masuk pada balok.
3.
Pasang besi tekan pada balok dan setelah itu
pasang penopang balok kayu dan tiang pada tengah bentang keraton bagian bawah
(lihat gambar).
4.
Setelah itu lanjutan dengan pengecoran pada
balok dan celah keraton dengan campuran beton dan kemudian dilanjutkan sampai
ketebalan 3 cm diatas keraton dan finishing plafon. Maka selesailah pekerjaan
keraton dan setelah kering baru dilakukan pekerjaan finishing lantai.


BAB III
SIMPULAN
Gedung merupakan
bangunan yang menyatu dengan tempat kedudukannya. Waktu, biaya, dan keamanan
merupakan aspek yang ada dalm kegiatan pembangunan sebuah gedung. Ceiling brick
adalah keramik komposit beton yang merupakan alternatif pengganti dak beton
konvensional yang digunakan untuk lantai gedung tingkat 2 dan seterusnya. Aspek
keamanan, keuntungan dan waktu dalam penggunaan ceiling brick lebih unggul dari
dak beton biasa. Bobotnya yang ringan dan proses penggunaannya yang lebih cepat
dan mudah menjadikan ceiling brick mulai di lirik oleh para pelaku industry bangunan.
Daftar pustaka:
http://www.ceilingbrick.com/faq/
http://ceilingbricks.blogspot.com/
http://cvbumiciptalestari.indonetwork.co.id/2157577/keramik-komposit-beton-ceiling-brick.htm
http://tfqarchitects.blogspot.com/2011/04/dak-beton-versus-ceiling-brick-keraton.html
http://ceilingbricks.blogspot.com/
http://cvbumiciptalestari.indonetwork.co.id/2157577/keramik-komposit-beton-ceiling-brick.htm
http://tfqarchitects.blogspot.com/2011/04/dak-beton-versus-ceiling-brick-keraton.html