Thursday, October 3, 2013

TEKNIK SIPIL DI BENCI TAPI DI SAYANG

    Seperti yang sudah kita ketahui bahwa teknik sipil adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bagaimana caranya merancang, membangun, dan merenovasi suatu bangunan. Teknik sipil juga sering di sebut-seebut sebagai ilmu pengetahuan yang mampu membuat hutan belantara menjadi sebuah perkotaan yang sangat modern dengan hiasan-hiasan bangunan pencakar langit yang bak hendak menembus atmosfer. Teknik sipil mempunyai ruang lingkup yang luas, didalamnya pengetahuan matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, lingkungan, hingga ilmu computer mempunyai peran dan fungsinya masing-masing.  Bak gayung bersambut, teknik sipil saat ini merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sangat di butuhkan di Indonesia khususnya,  sejalan dengan banyaknya program pemerintah yang berkenaan dengan pembangunan.
Namun teknik sipil juga bagaikan sebuah pisau bermata dua yang mana di satu sisi mendapatkan dukungan dan di sisi lainnya mendapatkan penolakan yang begitu gencar. Oleh karena itu teknik sipil saya sebut sebagai ilmu pengetahuan yang di benci tapi juga di sayang. Mengapa saya katakana demikian? Ya mungkin bahkan pasti kita sering melihat berita-berita yang beredar di masyarakat baik itu melalui media masa atau media elektronik,  mengenai  kampanye yang di lakukan oleh para aktivis lingkungan mengenai global warming dan pentingnya lahan hijau. Nah, bagi para aktivis lingkungan inilah teknik sipil di anggap musuh, karena mereka berpikir bahwa para engineer ( insinyur  ) adalah biang keladi dari terjadinya global warming dan kerusakan alam. Ya, mungkin memang benar apa yang para aktivis itu katakan bahwa engineer atau para ahli teknik sipil hanya merusak lingkungan, bila di lihat dari sudut pandang yang sempit. Tapi bila mereka sedikit saja melihat dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa teknik sipil itu bukan hanya membangun tapi juga merenovasi. Jadi bisa dikatakan lahan yang di gunakan itu adalah lahan yang sama tapi berbeda waktunya. Sebuah lahan akan mengalami 3 proses sekaligus yaitu perancangan, pembangunan, dan renovasi. Karena pada dasarnya tidak ada pengetahuan yang bersifat merusak, tapi pemanfaatannya saja yang keliru, begitu juga dengan ilmu teknik sipil bila di gunakan dengan bijak tentu akan memberikan dampak yang positif.
Selain di benci ilmu teknik sipil juga memiliki pecintanya tersendiri. Pemerintah sayang teknik sipil tidak? Oh,sudah barang tentu  karena sejalan dengan program yang mereka canangkan yaitu pembangunan daerah dan pedesaan guna meningkatkan dan menyetarakan taraf hidup dan ekonomi masyarakat daerah dan perkotaan dalam hal ini Jakarta. Selain pemerintah yang mencintai atau lebih tepatnya mendukung, saya pun sebagai seorang mahasiswa teknik sipil amat sangat mencintai ilmu pengetahuan yang satu ini. Karena coba bayangkan jika tidak ada ilmu teknik sipil dan para engineer apakah bisa ada jalan aspal protocol ataupun jalan tol yang sehari-hari kita gunakan untuk menghubungkan suatu daerah dengan daerah lain?, atau apakah bisa ada pusat pembangkit listrik yang selama ini produknya yaitu listrik kita gunakan untuk menunjang kehidupan seperti untuk menyalakan barang-barang elektonik?. Jawabannya saya yakin “TIDAK”. Karena tidak ada bidang ilmu yang lain yang mempelajari tentang konstruksi dan konsep perancangan, pembangunan, dan renovasi sedetail teknik sipil. Namun itulah iptek selalu saja memiliki dua wajah yang berbeda di mata kita sebagai manusia yang pendapatnya dan pandangannya tidak selalu sama.

No comments:

Post a Comment