Seperti
yang sudah kita ketahui bahwa teknik sipil adalah bidang ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang bagaimana caranya merancang, membangun, dan merenovasi
suatu bangunan. Teknik sipil juga sering di sebut-seebut sebagai ilmu
pengetahuan yang mampu membuat hutan belantara menjadi sebuah perkotaan yang
sangat modern dengan hiasan-hiasan bangunan pencakar langit yang bak hendak
menembus atmosfer. Teknik sipil mempunyai ruang lingkup yang luas, didalamnya
pengetahuan matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, lingkungan, hingga
ilmu computer mempunyai peran dan fungsinya masing-masing. Bak gayung bersambut, teknik sipil saat ini
merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sangat di butuhkan di Indonesia khususnya,
sejalan dengan banyaknya program
pemerintah yang berkenaan dengan pembangunan.
Namun
teknik sipil juga bagaikan sebuah pisau bermata dua yang mana di satu sisi
mendapatkan dukungan dan di sisi lainnya mendapatkan penolakan yang begitu
gencar. Oleh karena itu teknik sipil saya sebut sebagai ilmu pengetahuan yang
di benci tapi juga di sayang. Mengapa saya katakana demikian? Ya mungkin bahkan
pasti kita sering melihat berita-berita yang beredar di masyarakat baik itu
melalui media masa atau media elektronik, mengenai kampanye yang di lakukan oleh para aktivis
lingkungan mengenai global warming dan pentingnya lahan hijau. Nah, bagi para
aktivis lingkungan inilah teknik sipil di anggap musuh, karena mereka berpikir
bahwa para engineer ( insinyur ) adalah
biang keladi dari terjadinya global warming dan kerusakan alam. Ya, mungkin
memang benar apa yang para aktivis itu katakan bahwa engineer atau para ahli
teknik sipil hanya merusak lingkungan, bila di lihat dari sudut pandang yang
sempit. Tapi bila mereka sedikit saja melihat dari sudut pandang yang lebih
luas, bahwa teknik sipil itu bukan hanya membangun tapi juga merenovasi. Jadi bisa
dikatakan lahan yang di gunakan itu adalah lahan yang sama tapi berbeda
waktunya. Sebuah lahan akan mengalami 3 proses sekaligus yaitu perancangan,
pembangunan, dan renovasi. Karena pada dasarnya tidak ada pengetahuan yang
bersifat merusak, tapi pemanfaatannya saja yang keliru, begitu juga dengan ilmu
teknik sipil bila di gunakan dengan bijak tentu akan memberikan dampak yang
positif.
Selain
di benci ilmu teknik sipil juga memiliki pecintanya tersendiri. Pemerintah
sayang teknik sipil tidak? Oh,sudah barang tentu karena sejalan dengan program yang mereka
canangkan yaitu pembangunan daerah dan pedesaan guna meningkatkan dan
menyetarakan taraf hidup dan ekonomi masyarakat daerah dan perkotaan dalam hal ini
Jakarta. Selain pemerintah yang mencintai atau lebih tepatnya mendukung, saya
pun sebagai seorang mahasiswa teknik sipil amat sangat mencintai ilmu
pengetahuan yang satu ini. Karena coba bayangkan jika tidak ada ilmu teknik
sipil dan para engineer apakah bisa ada jalan aspal protocol ataupun jalan tol
yang sehari-hari kita gunakan untuk menghubungkan suatu daerah dengan daerah lain?,
atau apakah bisa ada pusat pembangkit listrik yang selama ini produknya yaitu
listrik kita gunakan untuk menunjang kehidupan seperti untuk menyalakan
barang-barang elektonik?. Jawabannya saya yakin “TIDAK”. Karena tidak ada
bidang ilmu yang lain yang mempelajari tentang konstruksi dan konsep
perancangan, pembangunan, dan renovasi sedetail teknik sipil. Namun itulah
iptek selalu saja memiliki dua wajah yang berbeda di mata kita sebagai manusia
yang pendapatnya dan pandangannya tidak selalu sama.
No comments:
Post a Comment